About Me

My photo
Shared Blog in Starting An Agenda Bandung School of Social Welfare

Thursday, August 2, 2012

Cara membuat Judul Penelitian yang Baik

Teman-teman... berlanjut dari postingan sebelumnya, saya akan berbagi kepada kamu tentang bagaimana cara membuat judul penelitian yang baik, yang langsung diterima, yang unik, dan disukai banyak dosen. Ini murni berdasarkan pengalaman saya ya...

Banyak mungkin dari kalian yang bingung harus ambil judul apa ya buat penelitianku? Harus pake judul apa ya buat karya akhir? pertama, sobat harus mulai dari bidang yang sobat sukai.

 Karena saya berasal dari domain studi sosial terutama pekerjaan sosial, bidang-bidang yang membuat saya menarik adalah misalnya soal pelanggaran HAM, pekerja anak, anak yang dikomersialisasikan, anak yang dilacurkan (Ayla), HIV/AIDS, Pengguna napza suntik (penasun) atau Injection Drug User (IDU), resolusi konflik, kebencanaan atau disaster manajement, komunitas deviant atau menyimpang seperti gay; waria; Wanita Tuna Susila (WTS); geng motor, bencana sosial atau konflik sosial, komunitas adat, pekerja migran (termasuk TKW atau TKI), apalagi ya... banyak de kayaknya. Oke sekarang udah kebayang, bidang apa yang kamu sukai selama kamu menempuh pendidikan di kampusmu?

Lakukan!
1. Buat daftar bidang-bidang yang menarik buat kamu yang berhubungan dengan studimu Kemudian, apalagi? setelah kamu membuat list, sekarang kamu pilih, mana dari mereka yang paling kamu sukai dan mana dari mereka yang jarang diteliti. Penting! sangat penting untuk memilih judul yang tantangan dilapangannya tidak begitu sulit karena akan mempengaruhi dalam perolehan data..

 2.Pilih yang paling membuatmu tertarik, unik dan jarang diteliti dari daftar bidang-bidang nomer satu Sekarang mungkin kamu akan bingung... yang mana ya... ada beberapa kandidat siy....
Setelah kamu memilih-milih, akhirnya misalnya ni... dapat lah tiga bidang yang menurut mu termasuk dalam kategori unik, jarang diteliti dan yang menarik buat kamu.

3. Cari konsep yang berkaitan dengan bidang yang telah terpilih Sekarang yang harus kamu perhatikan adalah, setiap bidang bisa menghasilkan ratusan judul. Judul membutuhkan konsep atau variabel. Untuk memilh judul, akan sangat bergantung pada pendekatan penelitianmu, apakah kualitatif atau kuantitatif? Konsep yang harus kamu cari adalah konsep yang jarang digunakan, unik, tetapi tidak sulit mencari referensinya. Di kampus saya, konsep yang paling sering digunakan untuk kuantitatif misalnya tingkat partisipasi, kalau kualitatif misalnya potensi konflik, peran lembaga A, solidaritas sosial, dll. Kalau menurut saya, judul itu relatif, judul bisa jadi kualitatif juga bisa jadi kuantitatif bergantung pada metode yang ingin digunakan. Jadi jangan bingung dulu, judul ini nantinya kualitatif atau kuantitatif ya?....

Untuk mencari konsep sesuai kategorisasi jarang digunakan, unik, tetapi tidak sulit mencari referensinya... kamu bisa mencari kumpulan konsep di INDEX buku-buku bahasa inggris.... Kebanyakan mahasiswa tingkat akhir akan menjadi sahabat sejati perpustakaan, skerang gunakan hak kamu untuk membedah perpus kampusmu yang mungkin selama ini belum pernah kamu kunjungi.
4. Cari keragaman konsep studi di INDEX, kemudian tulis konsep terpilih beserta buku dan halamannya.

 Kamu harus mencari buku yang sesuai dengan bidang yang telah kamu pilih. Buka bagian belakang buku, biasanya buku yang bagus dan tebal memiliki index didalamnya, ada author index dan subject index.. Buka Subject Index ya...Coba kamu cari konsep yang menurutmu masuk kedalam kategori diatas. Selamat mencari.... setelah dapat beberapa kandidat, jangan lupa tulis apa konsepnya, dari buku mana, halaman berapa. Penting, sebelum memilih konsep itu, liat kedalam buku, apakah penjelasan mengenai konsep itu banyak atau tidak, jika hanya satu lembar, usahakan jangan diambil ya...

 Sekarang kamu sdh punya konsep dan judul terakhir yang harus kamu tentukan adalah
5. Lokasi penelitian
Untuk lokasi, yang harus kamu tentukan lagi-lagi adalah fokus pada judul penelitianmu, apa subjek penelitiannya? misalnya kamu ingin meneliti mengenai Care Managment untuk Anak yang dikomersialisasikan di Kota Tarakan, Kalimantan Timur, Misalnya...
Lokasi penelitian harus mendukung pertanyaan; memangnya anak yang dikomersialisasikan jumlahnya sangat banyak disana? Bahasa yang digunakan oleh penduduk lokal apa dimenerti oleh peneliti? Memang Tarakan jadi kantung eksploitasi anak? Ada budaya tertentu? isu tentang komersialisasi anak lagi buming ga disana?, dsb. Jadi untuk menentukan lokasi penelitian, perhatikan juga posisi isu yang menjadi subjek penelitianmu ya...jangan milih lokasi hanya karena itu adalah Kampungmu, rumah nenek, rumah pacar, atau karena mau liburan, meditasi, dll...

Selamat membuat judul ya... 
Ayo coba dari no 1 sampai 5...

Bagaimana cara memulai penelitian?

Dipostingan ini, saya mau berbagi dengan teman-teman berdasarkan pengalaman saya dalam memulai penelitian. bagaimana proses penelitian, harus bagaimana persiapannya, menakutkan ga?, susah ga? koq sampe ada yang ga lulus... oke... tahan dulu pikiran macem-macem yang ada di kepalamu. saya akan mulai memberitahukan kepada teman-teman cara mudah melakukan penelitian terutama bagi teman-teman yang baru pertama kali melakukan penelitian untuk tugas akhirmu ya.. sebelumnya saya perkenalkan dulu siapa saya. Saat postingan ini dibuat, saya adalah mahasiswi semester 8 (tingkat akhir....hehehe) di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung. Di kampus saya, saya mempelajari ilmu-ilmu pekerjaan sosial (social worker). Studi yang saya pelajari hampir mirip dengan Jurusan Kesejahteraan Sosial di Kampus lainnya, seperti UNPAD, UNLA, UI, dll. Hanya saja, induk ilmu kesejahteraan sosial asalnya adalah dari STKS karena STKS adalah sekolah pekerjaan sosial pertama di Asia Tenggara. Wah, kampusku lumayan bersejarah ya...huhu Nah, subjek untuk penelitian sangat tergantung dengan studi sesuai dengan jurusan mu... Saya di STKS fokus studinya ke ilmu-ilmu atau disiplin ilmu sosial.. jadi semuanya termasuk metode, judul, kepustakaan bahkan penulisan mengadaptasi dari acuan-acuan khusus untuk disiplin ilmu sosial.. dalam melakukan penelitian hendaknya dimulai dari apa yang kamu sukai atau bidang yang membuat kamu tertarik.. karena ketertarikan akan sangat menentukan motivasimu dalam melakukan penelitian sampai kamu merasa data yang didapatkan cukup. Untuk memulai penelitian, nantinya kamu akan membuat proposal penelitian. Ingat, apapun yang kamu buat dalam proposal penelitian akan sangat menentukan di lapangan. Jika kamu serius, lakukan dari awal juga serius dan bersungguh-sungguh. Kenapa saya bertanya Anda harus serius? Karena proposal penelitian yang tidak jelas, akan membawa Anda ke dalam plagiarism atau cuma nyontek aja dari kakak kelas atau hasil penelitian orang lain atau ujung-ujungnya adalah fiksi alias mengarang indah. Untuk lebih detilnya, teman-teman bisa lihat postingan saya yang lain berkaitan dengan penelitian. Selamat membaca ya..

Sunday, July 10, 2011

NYAWA KEDUA PERGURUAN PENCAK SILAT “SINGA WULUNG” KAMPUNG NEGLA DESA SINDANGSARI

Kamis, 7 Juli 2011
Garut. Tabuhan kendang dengan terompet membuat senyuman para anak Kampung Negla, Desa Sindangsari kembali setelah sehari sebelumnya bergegas mencari kembali seragam silat Pangsi lengkap dengan ikat pinggang dan ikat kepala kain. Mereka mengingat-ingat kembali ancang-ancang dan posisi silat yang hampir lebih dari dua tahun tidak dilatih lagi.
Mang Adar, Guru Silat perguruan ini memaparkan dalam bahasa Sunda “Gerakan anak-anak masih ngaco karena telah lama tidak dilatih, padahal dulunya sangat bagus dan pernah dikirim sebagai atlit.”

Sejarah Perguruan
Perguruan Pencak Silat “SINGA WULUNG” berdiri kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu. Pendiri Perguruan ini adalah Alm. Pak Hamami, kemudian diturunkan kepada Alm. Pak H. Widana. Keturunan selanjutnya yang ketiga, yaitu Alm Pak Eli, dan sekarang perguruan dipegang oleh Mang Adar. Kepemimpinan perguruan diturunkan dari karuhun kepada cucu dibawahnya secara turun temurun.
Pencak Silat bukan hanya sekedar alat pertahanan diri saja tetapi keterampilan dalam olahraga ini juga mengandung unsur seni budaya asli Indonesia yang harus tetap lestari. Keberadaan kelompok ini harus diakui dan didukung keberadaannya oleh banyak pihak karena secara tidak langsung mereka melawan arus globalisasi yang mengikis warisan leluhur yang agung. Harapannya agar pemerintah bisa lebih memperhatikan kelompok perguruan ini.
Akhirnya napas kedua dihembuskan, singa yang pernah tidur, bangkit kembali, mengaum dan memperlihatkan taringnya. Kami berdoa semoga tetap terjaga seterusnya.


Oleh : Umi Salamah (Mahasiswi STKS Bandung)

Tuesday, June 28, 2011

Sindangsari Village and Me


I want to tell you about a beautiful village. A village, rural, which I stay on now that called by Sindangsari. This is my first practicum location, a practicum with locality development courses. Sindangsari is a unique also wonderful village, where you can find its speciality different from another village surround it. Sindangsari, part of West Java Province, lies in Garut District, Cigedung Subdistrict has a refreshing and convenience atmosphere. With friendly people, I mean it, very, very, very friendly, they will offer you with anything they have for you as a guest, all of anything that you can eat! And also, you know, most of the region is wet rice field, plantation garden, vegetable garden, tea garden and so on. All of these plant grow in a very cold temperature, Sindangsari usually have twentieth or below ten degrees, so cold in Indonesia’s measure, early in morning, appear steam from our breath. The view with these description so much beautiful, river surrounds this village, with fogs, dew, smile… I love all of it, I am alive…

Saturday, June 4, 2011

flower=beautiful

Do you know why flowers are called flower?

You know rafflesia?

Yes, rafflesia.
Rafflesia, I heard if it, live absorb from any corpse, animal or human corpse, yeah like that. But, even it sound disgusting,

it’s still called flower.

Why?

because flower is beautiful!

So I like all flowers.
Flowers are also like women. Women are like flowers. That’s why they called women. You got it?
So, please… Could you see a woman like you see flowers?

My another thought,
I think When you treat flowers reflects how you treat women.

I think, if you give a woman flowers, it means that you give women to that woman, is it make a sense? I mean you appreciate that woman.

I think, when you throw and step flowers, it mean you cant treat a woman well, because you shouldn’t do like throw and step it. Do you agree?

I think, when you say you can see the beautiful from flowers, just from the flower, petals and little trunk and little leave. it means you just like a woman psysically. a human have heart and soul. so

I think its better if we see beautiful of a flower completely from its root, trunk, flowers and leaves.

you must see a woman like complete flowers too, a woman with her heart and soul. you may still enjoy beautifully of a cut flower, but its not last longer, when it die, your admiring of that flower beauty are dissapear, then you throw that diying flower away..am I right?

Thursday, May 26, 2011

Modal Sosial dan Suku Jering Desa Kundi

Gubernur Provinsi Bangka Belitung mengatakan dalam suatu kesempatan pidatonya jika beliau merasa masyarakat adat di provinsi ini telah lama mengalami proses marginalisasi secara sosial, politik dan ekonomi. Sosial, ketika masyarakat tidak begitu menghargai lagi budayanya sendiri. Politik, ketika masyarakat adat sulit kesempatannya untuk menjadi pejabat pemerintahan dan tersampaikan aspirasinya meskipun putra daerah sendiri. Dan ekonomi ketika masyarakat adat terisolasi sehingga lebih rendah finansialnya dibanding daerah disekitarnya. Karena itu sudah semestinya dan saat ini kita mulai untuk menghargai masyarakat adat. Menghargai eksistensi mereka, ikut menjadi bagian dari mereka dan bangga pada kebudayaan kita sendiri. Beliau juga mengajak masyarakat untuk membangun negeri bersama dengan tetap bersatu erat.
Dalam otonomi daerah, pemerintah daerah memiliki kewenangan yang besar atas daerahnya. Lembaga pemerintahan yang di mandatkan untuk bekerja bersama masyarakat adat biasanya Dinas Sosial dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Dengan begitu, peran pemerintah daerah sangat besar dibandingkan pemerintah pusat dalam usaha kesejahteraan sosial rakyatnya, dan salah satu dari beragam masyarakat itu adalah komunitas adat. Masyarakat ini berbeda karena kelebihan tertentu. Mereka memiliki modal sosial yang jauh lebih kental dibanding dengan masyarakat umum.
Modal sosial merupakan aset potensi yang bisa dikembangkan dari suatu komunitas. Modal sosial milik komunitas bukan perseorangan, tapi perseorangan akan bisa menggerakkan modal sosial menjadi lebih besar atau sebaliknya lebih kecil. Modal sosial yang lebih besar dimiliki diantaranya oleh masyarakat adat, secara logika, masyarakat ini butuh kekuatan kolektifnya untuk bisa mempertahankan adat secara utuh, tanpa modal sosial kebudayaan mungkin masih bisa tetap ada tapi tidak akan utuh.
Masyarakat yang mempertahankan adat ini salah satunya adalah Suku Jering di Desa Kundi. Satu Desa itu, dengan luas lebih dari 30.000 hektar, Suku Jering tersebar diantaranya. Suku Jering tetap menjaga adat leluhur, budaya yang ada hampir sama dengan budaya bangka pada umumnya, hanya saja kegiatan atau kebiasaan adat selalu dirayakan dan diadakan upacara adat dengan khidmat dan penuh esensi adat dan magis.
Suku Jering tidak dipimpin oleh satu orang ketua adat, tapi Suku Jering mempercayakan kepemimpinan pada delapan jenang atau dukun kampung untuk memberikan arahan, bimbingan untuk Suku dalam bertindak dan menjaga keselarasan adat dengan perilaku.
Seperti masyarakat adat pada umumnya, yang diperlihatkan dalam keseharian, dalam perayaan tertentu, dan dalam setiap sendi kehidupan mencerminkan filosofi dan ideologi warisan budaya leluhur yang penuh dengan ajaran hidup, yang intinya mengajarkan kebaikan, keramahtamahan, ketekunan, kerjasama, kegotongroyongan, kekeluargaan, keadilan, dll. Ajaran-ajaran ini adalah bentuk dari modal sosial yang dimiliki komunitas yang mengikat para anggotanya untuk tetap melaksanakan ajaran adat.
Kekaguman Penulis pada masyarakat adat inilah yang memunculkan ketertarikan-ketertarikan. Bukan hanya pada masyarakat adat Suku Jering yang notebene memijak satu bumi yang sama dengan bumi kelahiran Penulis, tetapi juga Penulis kagum pada semua masyarakat adat di seluruh Indonesia. Hingga Penulis mempunyai mimpi untuk mendirikan suatu Lembaga Independen yang bergerak dalam perlindungan masyarakat adat dan mempromosikan masyarakat adat ke dunia sehingga dunia tercengang, jika Indonesia memiliki masyarakat adat yang sangat banyak yang merupakan aset warisan zaman dulu, kebudayaan yang luhur tak ternilai harganya dibandingkan dari sekedar uang kertas.

Thursday, May 12, 2011

Poverty Faces in Ciumbeuleuit, Bandung

At last Tuesday, my group and I went around to up land through Dago Pojok and on. On Poverty Problem lecture we must seek poverty in urban fringe. We found Kampung Sangiang Santen the transition area, side of urban in Ciumbeuleuit district. Directly, we headed to RT 10 and met the chairman of RT. They were so friendly and acceptly, far from my expectation if they were apatist, so glad, wasn't I. Honestly, I my self really sad, saw their condition of life. So slumy,so much older people, so much children but had no places for play and study. Number of burden that must been had by the breadwinner so high. Was this face of Bandung? A city with a high budget, a city with lots of outlets and large, lux building of hotels, cafes, restaurants, malls. But, in other side, so much poverty around us, have no living, have no money to hand, have no food to eat. will we just let it? Where is our social sincere? Where is nation solidarity? Are all just a common lie? Are world had change us? Who must be blamed?